Hai, Ibu…
Mungkin saat ini Ibu sedang duduk memegang hasil kontrol kehamilan, membaca angka tekanan darah yang terasa mengganjal di hati. Lalu dokter menyebut istilah yang belum pernah Ibu dengar sebelumnya: hipertensi gestasional. Rasanya campur aduk — kaget, cemas, bahkan mungkin bertanya-tanya, “Apakah ini berbahaya untuk saya dan bayi saya?”
Pertama-tama, kami ingin menyampaikan: Ibu tidak sendiri. Banyak ibu hamil di Indonesia yang mengalami hal serupa. Menurut Kementerian Kesehatan RI, sekitar 3,4% hingga 8,5% kehamilan di Indonesia disertai tekanan darah tinggi yang muncul setelah usia kandungan 20 minggu. WHO juga menegaskan, kondisi ini sering hadir diam-diam, tanpa gejala yang terasa, sehingga satu-satunya cara pasti mengetahuinya adalah melalui pemeriksaan rutin.
Kabar baiknya? Dengan pemantauan yang tepat, pola hidup sehat, dan dukungan tenaga medis, sebagian besar ibu hamil dengan hipertensi gestasional dapat menjalani kehamilan dengan aman dan melahirkan bayi yang sehat.
Di artikel ini, kita akan membahas apa sebenarnya hipertensi gestasional itu, mengapa bisa terjadi, dan langkah-langkah sederhana yang bisa Ibu lakukan untuk melindungi diri sendiri dan buah hati tercinta.
Apa Itu Hipertensi Gestasional?
Hipertensi gestasional adalah tekanan darah tinggi yang baru muncul saat hamil, umumnya setelah usia kehamilan 20 minggu, pada ibu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat hipertensi. Dalam praktik klinis, diagnosis ditegakkan ketika tekanan darah mencapai ≥140/90 mmHg pada dua kali pengukuran terpisah (minimal berjarak ±4 jam) selama kehamilan. Selain itu, hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda kerusakan organ atau protein berlebih dalam urine (proteinuria) — inilah yang membedakannya dari preeklampsia.
Kriteria Hipertensi Gestasional (yang Perlu Ibu Tahu):
- Muncul setelah 20 minggu kehamilan pada ibu yang sebelumnya normotensif.
- Tekanan darah ≥140/90 mmHg, dikonfirmasi pada dua kali pengukuran terpisah.
- Tidak ada proteinuria/kerusakan organ (kalau ada, dokter mempertimbangkan preeklampsia).
- Sifatnya sementara, pada banyak kasus, tekanan darah kembali normal dalam beberapa minggu setelah melahirkan (umumnya 6–12 minggu).
Catatan:
- Hipertensi gestasional bukan hipertensi kronis.
- Hipertensi kronis sudah ada sebelum hamil atau terdeteksi <20 minggu, dan bisa menetap setelah nifas.
- Hipertensi gestasional hanya terjadi selama kehamilan dan biasanya mereda setelah persalinan.
Kenapa Sering Tak Terasa?
Banyak ibu dengan hipertensi gestasional merasa tubuhnya baik-baik saja. Gejala bisa tidak ada sama sekali, sehingga kondisi ini kerap baru terdeteksi saat kontrol antenatal rutin (puskesmas/klinik/RS). Karena itu, jadwal pemeriksaan kehamilan jangan dilewatkan, bahkan bila Ibu merasa sehat.
Kenapa Penting Dipahami Sejak Awal?
Memahami perbedaan hipertensi dalam kehamilan, hipertensi gestasional, dan preeklampsia membantu Ibu dan keluarga mengambil keputusan lebih cepat bila tekanan darah naik. WHO menegaskan preeklampsia mencakup hipertensi + proteinuria/tanda kerusakan organ setelah 20 minggu; sedangkan hipertensi gestasional tidak disertai temuan tersebut. Karenanya, pemantauan tekanan darah dan urin selama hamil adalah kunci.
Meskipun darah tinggi saat hamil sering tanpa keluhan, ada beberapa sinyal tubuh yang perlu diwaspadai. Di bagian berikutnya, kita bahas gejala yang mungkin muncul dan kapan perlu segera diperiksakan ke dokter.
Penyebab dan Faktor Risiko Hipertensi Gestasional
Hingga kini, penyebab pasti hipertensi gestasional belum sepenuhnya dipahami. Namun, para ahli meyakini bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan masalah pada plasenta — organ yang berperan menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Gangguan perkembangan atau fungsi plasenta dapat memicu perubahan pada pembuluh darah dan sistem hormonal ibu, sehingga tekanan darah meningkat.
Selain itu, faktor genetik, respon sistem imun, dan kondisi medis tertentu juga dapat mempengaruhi risiko seseorang mengalami hipertensi gestasional. Memahami hal ini membantu ibu hamil melakukan langkah pencegahan lebih awal.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai
Beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi gestasional, di antaranya:
- Kehamilan pertama
- Usia ibu <20 tahun atau ≥35 tahun
- Riwayat hipertensi gestasional atau preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
- Obesitas atau kenaikan berat badan berlebih selama hamil
- Kehamilan ganda (kembar dua atau lebih)
- Riwayat keluarga dengan hipertensi gestasional atau preeklampsia
- Memiliki penyakit tertentu seperti diabetes, penyakit ginjal, atau gangguan autoimun
Kenapa Perlu Mengenali Faktor Risiko?
Bahaya Hipertensi Gestasional bagi Ibu dan Janin
Hipertensi gestasional bukan sekadar angka tekanan darah tinggi saat hamil. Jika tidak terpantau atau tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius yang mempengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, di Indonesia, hipertensi dalam kehamilan terjadi pada antara 3,2% hingga hampir 10%, dengan berbagai faktor risiko. Fakta ini menunjukkan bahwa meski banyak ibu hamil tampak sehat, hipertensi gestasional tetap perlu diwaspadai.
Risiko bagi Ibu
Jika tidak tertangani, hipertensi gestasional dapat menyebabkan:
- Preeklampsia, tekanan darah tinggi disertai kerusakan organ, seperti ginjal atau hati.
- Eklampsia, kejang akibat komplikasi preeklampsia, yang dapat berujung pada koma atau kematian ibu.
- Stroke, akibat pecahnya pembuluh darah di otak karena tekanan darah yang sangat tinggi.
- Kerusakan organ, termasuk gagal ginjal akut dan sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver enzymes, Low Platelet count).
- Gangguan pembekuan darah, yang dapat meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan.
Risiko bagi Janin
Hipertensi gestasional dapat mengganggu aliran darah ke plasenta, sehingga janin kekurangan oksigen dan nutrisi. Dampaknya meliputi:
- Pertumbuhan janin terhambat (Intrauterine Growth Restriction / IUGR)
- Berat badan lahir rendah (Low Birth Weight / BBLR)
- Kelahiran prematur, baik karena kondisi darurat medis maupun persalinan yang diinduksi demi keselamatan ibu dan bayi
- Kematian janin dalam kandungan (stillbirth) pada kasus yang berat dan tidak terpantau
Mengelola Risiko dengan Tenang
Membaca daftar risiko ini bisa membuat cemas. Namun, kabar baiknya adalah sebagian besar komplikasi dapat dicegah jika hipertensi gestasional terdeteksi lebih awal dan dikelola dengan baik.
Pencegahan meliputi:
- Pemeriksaan kehamilan rutin sesuai jadwal
- Pemantauan tekanan darah secara berkala
- Mengikuti semua anjuran medis
- Perencanaan persalinan yang matang bersama tenaga kesehatan
Dengan langkah-langkah ini, banyak ibu hamil dengan hipertensi gestasional dapat menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan bayi dengan selamat.
Perbedaan Hipertensi Gestasional dan Preeklampsia
Banyak ibu hamil bingung membedakan hipertensi gestasional dengan preeklampsia. Keduanya memang melibatkan tekanan darah tinggi saat hamil, tetapi perbedaan utamanya ada pada adanya kerusakan organ atau protein dalam urine.
- Hipertensi Gestasional → tekanan darah ≥140/90 mmHg yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu pada ibu yang sebelumnya tidak memiliki riwayat hipertensi, tanpa proteinuria atau tanda kerusakan organ.
- Preeklampsia → hipertensi pada kehamilan yang disertai proteinuria atau tanda kerusakan organ, seperti gangguan hati, ginjal, otak, atau sistem pembekuan darah. Kondisi ini cenderung lebih serius dan memerlukan penanganan cepat.
Hubungan antara Hipertensi Gestasional dan Preeklampsia
Sekitar 10–20% kasus hipertensi gestasional dapat berkembang menjadi preeklampsia. Itulah sebabnya ibu hamil dengan hipertensi gestasional memerlukan pemeriksaan rutin, termasuk tes urine di setiap kunjungan antenatal, untuk mendeteksi tanda-tanda awal preeklampsia.
Gejala Khas Preeklampsia
Selain tekanan darah tinggi, preeklampsia dapat ditandai oleh:
- Sakit kepala berat yang menetap
- Pandangan kabur, berkunang-kunang, atau melihat kilatan cahaya
- Nyeri hebat di ulu hati atau perut kanan atas
- Pembengkakan tiba-tiba pada wajah dan tangan
- Produksi urine menurun
Di masyarakat, preeklampsia kadang disebut “keracunan kehamilan” (pregnancy poisoning). Istilah ini tidak tepat, karena kondisi ini bukan disebabkan oleh racun, melainkan perubahan kompleks pada pembuluh darah dan organ selama kehamilan.
Tabel Perbandingan
| Aspek | Hipertensi Gestasional | Preeklampsia |
| Waktu muncul | ≥20 minggu kehamilan | ≥20 minggu kehamilan |
| Tekanan darah | ≥140/90 mmHg | ≥140/90 mmHg |
| Protein dalam urine | Tidak ada | Ada (proteinuria) |
| Kerusakan organ | Tidak ada | Ada (ginjal, hati, otak, darah) |
| Keparahan | Cenderung lebih ringan | Lebih serius, berisiko komplikasi |
| Perjalanan penyakit | Biasanya membaik pasca persalinan | Dapat memburuk cepat jika tidak ditangani |
Memahami perbedaan ini akan membantu ibu hamil lebih waspada terhadap tanda-tanda preeklampsia. Tes tekanan darah dan pemeriksaan urine rutin adalah langkah sederhana namun krusial untuk deteksi dini dan pencegahan komplikasi.
Cara Mengatasi Hipertensi Saat Hamil secara Aman
Mendapatkan diagnosis hipertensi gestasional atau hipertensi saat hamil tidak berarti kehamilan Anda pasti berakhir dengan komplikasi. Dengan pengawasan medis, pola hidup sehat, dan deteksi dini, sebagian besar ibu hamil dapat menjalani kehamilan dengan aman hingga persalinan.
1. Pengawasan Medis Rutin dan Intensif
Ibu hamil dengan hipertensi gestasional biasanya memerlukan:
- Kontrol antenatal lebih sering sesuai jadwal dokter atau bidan.
- Pemantauan tekanan darah di rumah menggunakan alat tensi yang terkalibrasi.
- Istirahat cukup dan mengurangi aktivitas fisik berat (relative bed rest).
- Pemantauan gejala preeklampsia seperti sakit kepala berat, pandangan kabur, atau nyeri perut bagian atas.
Langkah ini membantu dokter mendeteksi perubahan kondisi sejak dini, sehingga tindakan medis bisa segera diberikan bila diperlukan.
2. Penggunaan Obat yang Aman untuk Ibu dan Janin
Tidak semua obat darah tinggi aman digunakan selama hamil.
- Hanya dokter yang boleh meresepkan obat antihipertensi untuk ibu hamil.
- Beberapa obat seperti methyldopa dan labetalol sering dipilih karena terbukti aman.
- Sebaliknya, obat golongan tertentu (misalnya ACE inhibitor) tidak dianjurkan karena berisiko bagi janin.
3. Perubahan Gaya Hidup Sehat
Selain terapi medis, gaya hidup berperan penting dalam mengendalikan tekanan darah. Praktik sederhana yang bisa dilakukan meliputi:
- Membatasi asupan garam (hindari makanan tinggi sodium seperti makanan cepat saji, makanan kaleng, keripik asin).
- Minum air putih cukup setiap hari.
- Tidur 7–9 jam per malam dengan kualitas tidur yang baik.
- Mengelola stres melalui relaksasi, meditasi, atau doa.
- Aktivitas fisik ringan seperti jalan santai atau yoga prenatal, sesuai anjuran dokter.
4. Waspadai Tanda Bahaya
Segera ke unit gawat darurat jika mengalami:
- Sakit kepala hebat mendadak
- Pandangan kabur atau melihat kilatan cahaya
- Nyeri hebat di perut bagian atas
- Mual muntah berat yang tidak wajar
- Penurunan jumlah urine
Gejala ini dapat mengindikasikan perkembangan menuju preeklampsia yang membutuhkan penanganan segera.

Kabar Baiknya
Sebagian besar ibu dengan hipertensi gestasional berhasil melahirkan bayi sehat — baik secara normal maupun melalui induksi atau operasi caesar jika diperlukan.
Tekanan darah biasanya kembali normal dalam beberapa minggu setelah persalinan, meskipun kontrol pasca melahirkan tetap penting untuk memastikan kesehatan jangka panjang.
Kita akan membahas tips mencegah hipertensi dalam kehamilan, langkah-langkah praktis untuk meminimalkan risiko sejak awal kehamilan.
Tips Mencegah Hipertensi dalam Kehamilan
Pencegahan memang tidak selalu dapat menjamin hipertensi gestasional atau hipertensi saat hamil tidak terjadi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan sehat ini dapat membantu menurunkan risiko dan membuat ibu hamil lebih siap menghadapi perubahan tubuh selama kehamilan.
1. Jaga Berat Badan Ideal Sebelum dan Selama Hamil
Memulai kehamilan dengan berat badan sehat membantu mengurangi beban kerja jantung dan pembuluh darah.
- Sebelum hamil, usahakan mencapai indeks massa tubuh (IMT) normal.
- Selama hamil, ikuti target kenaikan berat badan sesuai anjuran dokter atau bidan berdasarkan IMT awal.
Berat badan yang terkontrol dapat menekan risiko lonjakan tekanan darah.
2. Terapkan Pola Makan Sehat dan Rendah Garam
- Kurangi konsumsi makanan tinggi garam, MSG, dan lemak jenuh.
- Perbanyak sayur, buah, dan sumber kalium seperti pisang, alpukat, bayam, atau ubi.
- Pilih protein sehat seperti ikan, ayam tanpa kulit, tahu, dan tempe.
- Batasi makanan olahan dan cepat saji yang umumnya tinggi sodium.
3. Lakukan Aktivitas Fisik Ringan Secara Teratur
Olahraga ringan membantu melancarkan sirkulasi darah dan mengontrol tekanan darah.
Contoh yang aman untuk ibu hamil:
- Jalan kaki santai
- Senam hamil
- Yoga prenatal
Selalu konsultasikan jenis dan durasi aktivitas dengan dokter, terutama bila ada risiko komplikasi.
4. Cukupi Cairan dan Istirahat
- Minum air putih ± 8 gelas per hari atau sesuai kebutuhan tubuh.
- Tidur cukup 7–9 jam per malam dengan posisi yang nyaman bagi ibu hamil.
- Luangkan waktu untuk relaksasi dan kelola stres dengan teknik pernapasan atau meditasi.
5. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Secara Rutin
Kontrol kehamilan (antenatal care) membantu mendeteksi kenaikan tekanan darah dan tanda awal preeklampsia lebih cepat.
Pemeriksaan biasanya meliputi:
- Pengukuran tekanan darah
- Tes urine untuk melihat adanya protein
- Pemantauan perkembangan janin melalui USG
6. Libatkan Suami dan Keluarga
Dukungan keluarga sangat berpengaruh pada kesehatan ibu hamil.
- Suami bisa membantu menyiapkan makanan sehat, menemani kontrol kehamilan, dan mengurangi beban pekerjaan rumah.
- Lingkungan yang suportif membantu menurunkan stres, yang juga berdampak positif pada tekanan darah.

Faktor seperti usia atau riwayat hipertensi dalam keluarga memang tidak bisa diubah. Namun, dengan menerapkan langkah-langkah di atas, Anda dapat mengurangi risiko dan mempersiapkan tubuh lebih baik untuk menjalani kehamilan dengan sehat.
Pertanyaan Umum Seputar Hipertensi Gestasional
Berikut ini beberapa pertanyaan seputar hipertensi saat hamil yang seringkali ditanyakan oleh ibu hamil di Indonesia pada umumnya.






